Friday, March 14, 2014

Cerpen

 “Antara Luka Dan Keikhlasan”
Ciptaan : Aulia
Penulis : Fitri
Aku tidak tau sudah berapa banyak air mata ini jatuh. Menangis dan menangis hanya itu yang bisa aku lakukan dalam sujudku. Memohon kekuatan dari allah saat hati tidak bisa diajak kompromi ketika takutnya aku kehilangan orang yang aku cintai.
Lama aku terpakur menghadirkan hatiku pada sang Maha Rahim memohon rahmatnya untuk bisa lebih kuat menjalani ketentuan dan semua cobaan yang datang dalam kehidupanku. Ya Rabb “engkau yang maha tau apa yang kurasakan tentang kesedihanku saat ini. Aku mohon jangan tinggalkan aku dan tetaplah bersamaku untuk menjalani ini semua” do’aku.
Impian indahku dengan dia (Sigit) yang ingin kuraih kurasakan kandas tanpa perjuangan yang dilakukan dia untukku. Kekuatan cinta yang kuperuntukkan untuknya seakan tak berarti sedikit pun untuknya. Aku bagai terhempas ditengah lautan yang tak berujung. Dada ini menahan gejolak rasa sakit kehilangan orang yang kucintai membuatku terus menyalahkan diriku sendiri karena aku tidak mampu menata hatiku untuk terus bertawakkal. Aku kembali tersadar begitu besarnya rasa Cinta dan Sayang ini untuknya.
Dalam memoriku, aku tetap berpegang teguh dengan apa yang pernah diucapkan sigit bahwa kejujuran dan kesabaran adalah harta yang paling berharga. Itu yang menguatkanku untuk tidak membuka ruang hati ini kepada siapapun. Dengan kejujuran dan kesabaran itu pula cinta ini kupersembahkan untuk dia. Dengan keyakinan itu pula aku menghabiskan waktu yang tersisa bersama dia.
Mengapa hati ini begitu beku, seolah tak tergoyahkan dengan sikap dia terhadapaku yang mulai berubah. Niatku untuk menjadi istri sholeha dan menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya serta menghabiskan waktu-waktu terakhirku bersamanya  seperti kandas begitu saja. Meski aku selalu berharap keajaiban datang pada dirinya untuk menjadi seorang imam yang aku harapkan. Namun dengan sikap dan sifatnya yang semakin hari semakin sulit untuk dimengerti seolah tidak memberikan harapan apa-apa buatku.
“aku ingin kamu bahagia lia, tapi kamu tidak pernah mengerti apa yang aku rasakan” kata sigit padaku. Kata-kata itulah yang selalu membuatku bertanya apa aku tidak pernah mengerti dia ? apakah aku terlalu egois memikirkan diriku sendiri ? seolah dia tidak mau mngerti apa yang aku rasakan dan memilih untuk menjauh dariku. Dan berkali-kali aku berusaha untuk mematikan rasa saying dan cinta ini padanya, setelah perkataan dia itu. Namun ketika perasaan itu sudah hampir sirna, dia datang kembali meminta maaf atas semua kata-kata dia yang melukai hatiku. Sikap dan sifat dia yang membuatku lelah untuk mempertahankan dia. Tetapi perasaan saying ini selalu mengalahkan logikaku, dan aku kembali mencoba untuk memperthakankan kembali hubungan ini. Dan dengan secercah harapan agar dia bener-bener berubah.
Namun kembali sikap dan sifatnya yang over protektif, cemburuan dan curigaan yang tidka menentu. Kebohongan-kebohongan yang dia ciptakan membuatku bener-bener mematikan rasa cinta dan sayang ini dan menutup hatiku untuk nama dia. Lelah rasanya aku mendengar semua omongan-omongan orang tentang dia yang selalu membuatku risih. Namun inilah kenyataan, “terkadang kita akan dipertemukan dengan beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat”. Dia orang yang bener-bener nggak pantas mendapatkan cinta tulus ini, batinku.
Ya Allah mengapa engkau pertemukan aku kembali dengannya bila akhirnya membuatku terluka seperti ini. Aku tidak tau apa hikmah dibalik semua ini. Tapi Tuhan telah menunjukkan kalau dia bukan yang terbaik buatku. Dan juga hidup tidak berhenti sampai disini, masih panjang perjalanan yang harus ku jalani dan aku percaya masih banyak cinta yang mendampingiku.
Biarlah impian indah yang pernah ku impikan dengan dia menjadi bait puisi yang akan using ditelan waktu atau bahkan terkubur oleh waktu dan keadaan. Semoga akhirnya kelak kita bahagia dengan kehidupan kita masing-masing. Amin ya Rabbal alamin…


2 comments: