“Antara Luka Dan Keikhlasan”
Ciptaan : Aulia
Penulis : Fitri
Aku
tidak tau sudah berapa banyak air mata ini jatuh. Menangis dan menangis hanya
itu yang bisa aku lakukan dalam sujudku. Memohon kekuatan dari allah saat hati
tidak bisa diajak kompromi ketika takutnya aku kehilangan orang yang aku
cintai.
Lama
aku terpakur menghadirkan hatiku pada sang Maha Rahim memohon rahmatnya untuk
bisa lebih kuat menjalani ketentuan dan semua cobaan yang datang dalam
kehidupanku. Ya Rabb “engkau yang maha tau apa yang kurasakan tentang
kesedihanku saat ini. Aku mohon jangan tinggalkan aku dan tetaplah bersamaku
untuk menjalani ini semua” do’aku.
Impian
indahku dengan dia (Sigit) yang ingin kuraih kurasakan kandas tanpa perjuangan
yang dilakukan dia untukku. Kekuatan cinta yang kuperuntukkan untuknya seakan
tak berarti sedikit pun untuknya. Aku bagai terhempas ditengah lautan yang tak
berujung. Dada ini menahan gejolak rasa sakit kehilangan orang yang kucintai
membuatku terus menyalahkan diriku sendiri karena aku tidak mampu menata hatiku
untuk terus bertawakkal. Aku kembali tersadar begitu besarnya rasa Cinta dan
Sayang ini untuknya.
Dalam
memoriku, aku tetap berpegang teguh dengan apa yang pernah diucapkan sigit
bahwa kejujuran dan kesabaran adalah harta yang paling berharga. Itu yang
menguatkanku untuk tidak membuka ruang hati ini kepada siapapun. Dengan
kejujuran dan kesabaran itu pula cinta ini kupersembahkan untuk dia. Dengan
keyakinan itu pula aku menghabiskan waktu yang tersisa bersama dia.
Mengapa
hati ini begitu beku, seolah tak tergoyahkan dengan sikap dia terhadapaku yang
mulai berubah. Niatku untuk menjadi istri sholeha dan menjadi ibu yang baik
untuk anak-anaknya serta menghabiskan waktu-waktu terakhirku bersamanya seperti kandas begitu saja. Meski aku selalu
berharap keajaiban datang pada dirinya untuk menjadi seorang imam yang aku
harapkan. Namun dengan sikap dan sifatnya yang semakin hari semakin sulit untuk
dimengerti seolah tidak memberikan harapan apa-apa buatku.
“aku
ingin kamu bahagia lia, tapi kamu tidak pernah mengerti apa yang aku rasakan”
kata sigit padaku. Kata-kata itulah yang selalu membuatku bertanya apa aku
tidak pernah mengerti dia ? apakah aku terlalu egois memikirkan diriku sendiri
? seolah dia tidak mau mngerti apa yang aku rasakan dan memilih untuk menjauh
dariku. Dan berkali-kali aku berusaha untuk mematikan rasa saying dan cinta ini
padanya, setelah perkataan dia itu. Namun ketika perasaan itu sudah hampir
sirna, dia datang kembali meminta maaf atas semua kata-kata dia yang melukai hatiku.
Sikap dan sifat dia yang membuatku lelah untuk mempertahankan dia. Tetapi
perasaan saying ini selalu mengalahkan logikaku, dan aku kembali mencoba untuk
memperthakankan kembali hubungan ini. Dan dengan secercah harapan agar dia
bener-bener berubah.
Namun
kembali sikap dan sifatnya yang over protektif, cemburuan dan curigaan yang
tidka menentu. Kebohongan-kebohongan yang dia ciptakan membuatku bener-bener
mematikan rasa cinta dan sayang ini dan menutup hatiku untuk nama dia. Lelah
rasanya aku mendengar semua omongan-omongan orang tentang dia yang selalu
membuatku risih. Namun inilah kenyataan, “terkadang kita akan dipertemukan
dengan beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat”. Dia
orang yang bener-bener nggak pantas mendapatkan cinta tulus ini, batinku.
Ya
Allah mengapa engkau pertemukan aku kembali dengannya bila akhirnya membuatku
terluka seperti ini. Aku tidak tau apa hikmah dibalik semua ini. Tapi Tuhan
telah menunjukkan kalau dia bukan yang terbaik buatku. Dan juga hidup tidak
berhenti sampai disini, masih panjang perjalanan yang harus ku jalani dan aku
percaya masih banyak cinta yang mendampingiku.
Biarlah
impian indah yang pernah ku impikan dengan dia menjadi bait puisi yang akan
using ditelan waktu atau bahkan terkubur oleh waktu dan keadaan. Semoga
akhirnya kelak kita bahagia dengan kehidupan kita masing-masing. Amin ya Rabbal
alamin…

move on
ReplyDeletehehee
ReplyDeletetp sulit